Sabtu, 14 Februari 2009

Ketundukanku pada Allah, memaksaku tuk berbicara ini,,,,

----- Original Message ----
Dari: D'akhwat < ,,,,,,,@gmail.com
Kepada: D'ikhwan <,,,,,,@yahoo.com>
Terkirim: Selasa, 27 Mei, 2008 13:26:15
Topik: Ketundukanku pada Allah, memaksaku tuk berbicara ini,,,,,,,



Bismillaahirrahmaanirrahiim



Assalamu'alaykum warohmatulloohi wabarokaatuh

yaaa al-akh D'ikhwan yang saya kagumi :)



Subhanallooh, berkenalan dengan akhi adalah sebuah keajaiban teruntuk diri saya.

Atas kehendak Allah SWT, kita dipertemukan dengan segala keterbatasan kita sebagai manusia, yang jika dikaji dengan logika, maka perkenalan kita takkan pernah terjadi.



Sungguh kebahagiaan tersendiri untuk saya, karena Allah telah mempertemukan seorang calon Imam yang insya Allah mencintai Allah, hidup diantara orang2 sholeh, dan mampu menjaga hati sedemikian dahsyat serta memahami segala tindak laku kehidupan dengan pemahaman yang shahih. Semoga Allah senantiasa menjaga akhi dan orang2 yang akhi sayangi,,,,,Amin



Ya akhi,,,,,

kali ini saya menulis email ini bukan tanpa tujuan,,,,,

Hari ini, saya berdialog dengan Allah lewat sholat Dzuhur saya,,,,,

sungguh kondisi yang amat sangat tenang,,,,

didahului dengan kumandang Adzhan dari radio Rodja,,,,

saya berwudhu,,, dan bergegas ke musholla kecil di kantor,

Kondisi amat sangat sunyi,,,,,

hanya ada hembusan nafas seorang wanita yang penuh cinta,,,,



Ditengah2 sujud,,,,aku teringat Allah,,,,, teringat akhi,,,,

Astaghfirulloohal'adzim,,,,,,,

lambat laun,,,,,,

di doa bada sholat, tak terasa,,,,,,,dialog ku dengan My Rabb, telah meluluh lantakkan jiwa dan hatiku,,,,,,

Berkecamuk tak karuan,,,,

hingga akhirnya terbentuk suatu hasil dialogku dengan Sang Khalik,,,,,



ya akhi,

saya bingung dengan proses taaruf yang kita jalani saat ini.

Saya,,,,,,

sungguh saya bahagia sekali bisa bertaaruf dengan akhi,,,,

hari makin hari saya menemukan hal2 positif dari diri akhi yang membuat saya kagum,,,,,,

tapi ya akhi,,,,,,ternyata hati ini mendua,,,,,,,

satu sisi, hati saya mengatakan,,,,,, "aku suka pada akhi"

tapi satu sisi lainnya,,,,,, "Jangan, ini NAFSU!!!! KAU TELAH BERZINA KALBU!!!!"



Astaghfirulloohal'adziiim,,,,,,,,



Ya akhi,,,,,,,

pada dialog-ku kali ini dengan ALLAH, aku memutuskan untuk kembali kepada-NYA

aku memutuskan untuk mencintai-NYA,,,,,,

aku memilih ALLAH,,,,,,



Ya akhi,,,,,,

dengan berat hati,,,,,,

Bismillaahirrahmaanirrahiim

saya akan mengundurkan diri dari proses taaruf kita,,,,,,

Bukan karena saya tidak sabar menanti akhi,,,,,,,

Bukan karena saya tidak percaya dengan keajaiban akhi tuk mendapatkan pekerjaan dengan cepat

Bukan karena saya ingin bertaaruf dengan ikhwan lain,,,,,,,,

Bukan karena saya tidak menyukai akhi,,,,,,

Tapi karena saya takut,,,,,,,



Yaitu TAKUT AKAN KEKAGUMAN SAYA TERHADAP AKHI MEMBAWA SAYA BERZINA KALBU,,,,,,,, yang jika dipupuk terus menerus akan menyebabkan HATI SAYA KOTOR,,,,,,, KOTOR,,,,,, dan KOTOR,,,,,,

Saya khawatir tingkat tinggi,,,,,, karena makin banyak dosa yang saya kerjakan akan membuat hati saya semakin ternoda dan berkarat,,,,,

padahal hati adalah cermin yang bisa memancarkan NUR ILLAHI,,,,,

inilah usaha saya tuk membuktikan cinta pada SANG KHALIK,,,,,,




Mengenai pekerjaan, akhi jangan khawatir,,,,,,,saya akan selalu berdoa dan membantu semampu saya agar akhi cepat dapat kerja sesuai yang akhi cita-citakan,,,,,,

yang diberkahi dan diridhoi oleh Allah SWT,,,,,,




Semoga Akhi mengerti dengan email yang saya maksud ini.

Semoga akhi tidak salah persepsi,,,,,,

Semoga saya tidak menyakiti akhi,,,,,,



Maaf sebesar2nya atas salah2 sikap dan kata2 saya selama ini,,,,,,,

Maafkan saya yg dhaif dan munafik ini,,,,,,

Maafkan saya yang tak bisa menjaga hati,,,,,,

Semoga Allah selalu melindungi akhi,,,,,,



Demikianlah akhi,,,,,, akhirnya aku memilih ALLAH,,,,,

sesungguhnya jihad melawan hawa nafsu adalah hal tersulit untuk saya,,,,,

saya takut bermain api,,,,,sungguh sudah menggunung DOSA2 saya dimasa lampau,,,,,,

Tak pantas untuk saya mengulanginya lagi,,,,,



"Aku mencintaimu karena Allah, dan karena-Nyalah engkau mencintaku,,,,,,"

Namun,,,,,,kita belum terhalalkan tuk itu,,,,,,



Wassalamu'alaykum warohmatulloohi wabarokaatuh,

D'Akhwat

Nan fakir ilmu wa amal

==========================================

kuketik dengan linangan air mata atas ketundukanku pada Sang Khalik,,,, tuk melepaskan lelaki sholeh didepan mataku,,,,,,,,

Selasa, 27 May 2008, 13.19 WIB



--- On Wed, 5/28/08, D'ikhwanwrote:

From: D'ikhwan
Subject: Bls: Ketundukanku pada Allah, memaksaku tuk berbicara ini....
To: D'akhwat
Date: Wednesday, May 28, 2008, 12:40 AM

Wa’alayki salam wa rahmatullahi wa barakatuh.

Maaf, ukhti, balasan ini yang seharusnya sudah saya kirimkan tadi malam, baru bisa saya tulis pagi ini karena tadi malam saya harus menulis surat dan mengirimkan beberapa hal untuk seorang kenalan yang menawarkan sebuah pekerjaan dengan SEGERA. Saya sempat berniat mengirim sms atau instant message kepada anti tadi malam untuk memberitahukan keterlambatan ini, tapi saya mengurungkan niat itu karena tidak ingin mengganggu komitmen anti.



Selama saya membaca pesan anti, satu kalimat yang paling sering saya desahkan adalah “Subhanallah…” untuk anti.

Selama saya membaca pesan anti, kalimat lain yang paling sering saya desahkan adalah “Astaghfirullah…” untuk diri saya sendiri.


Selama saya membaca pesan anti, satu ayat yang terus anti dentang-dentangkan di telinga saya adalah

“Am hasibtum an tadkhulal jannata wa lamma ya’tikum matsalulladziina khalauna min qablikum.” (Al-Baqarah: 214)

“Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk syurga, padahal belum datang cobaan sebagaimana halnya orang-orang yang lebih dahulu daripada kalian?”


Subhanallah untuk anti karena anti memiliki hal-hal yang begitu mengagumkan. Ketundukan, kewara’an, dan ketaqwaan anti adalah hal-hal yang begitu mengagumkan itu. Apakah lagi hal yang mengagumkan dan membuat kita mulia di hadapan Allah jika bukan ketakutan dan ketaqwaan kita? Harta dan kejayaan dunia tidak lebih berharga daripada sebelah sayap nyamuk, tapi amal dan ketaqwaan antilah yang akan benar-benar menjadi harta dan kejayaan anti yang sesungguhnya. Subhanallah…


Astaghfirullah untuk saya karena selama ini ternyata saya telah melakukan kejahatan kepada anti meskipun saya sama sekali tidak bermaksud seperti itu. Kejahatan saya kepada anti adalah bahwa saya telah mengotori hati anti. Dan kejahatan apa yang lebih jahat daripada kejahatan mengotori hati orang? Vandalisme mencoret-coret tembok rumah orang hanyalah mengotori hal-hal duniawi yg tidak menentukan penilaian Allah, tapi “mencoret-coret” hati orang? Itulah kejahatan yang sesungguhnya: mengotori sesuatu yang langsung dinilai oleh Allah, mengotori sesuatu yang – meminjam istilah anti – seharusnya memancarkan NUR ILAHI. Astaghfirullah…


Meski begitu, tanpa bermaksud membela diri, saya akan menyampaikan beberapa hal yang sesungguhnya telah mendasari tindakan saya. Saya memberi perhatian kepada anti karena saya merasa cocok dan simpati kepada insan yang bersemangat mencari kebenaran, bukan orang yang puas dan berhenti saja pada sebuah keyakinan dengan membabi buta dan tanpa dasar. Saya sangat menyayangkan jika insan seperti itu berjumpa dengan ajakan akan pemahaman yang tidak sahih, akan tetapi karena hanya ajakan itu satu-satunya yang ia jumpai, maka ia pun mengikutinya. Itu seperti yang terjadi pada banyak kasus menyedihkan yang sering saya temui. Oleh sebab itu, sebelum hal itu terjadi, kewajiban saya adalah membantu insan itu untuk menemukan kebenaran yang hakiki sesuai dengan kemampuan dan pemahaman saya. Itu yang pertama. Yang kedua… Saya mengira saya akan lebih cepat mendapat pekerjaan sehingga prosesnya tidak berlarut-larut begini. Itu saja. Saya malu untuk membahasnya.


Astaghfirullah untuk saya karena sesungguhnya saya tidak seperti yang anti persangkakan dengan kalimat anti “seorang calon Imam yang insya Allah mencintai Allah, hidup diantara… ” dst, dst, yang saya malu menirukannya karena itu semua mungkin tidak ada di dalam diri saya. Saya hanyalah orang yang penuh dengan kesalahan yang kesalahannya itu pernah membuatnya gagal, dan tidak usah jauh-jauh, bahkan kesalahan saya itu baru saja anti rasakan. Saya hanyalah seorang yang miskin ilmu, amal, dan juga amwal (harta), yang masih harus banyak belajar dari kitab dan hikmah, termasuk dari para shalihin dan shalihat seperti anti. Akan tetapi jika anti berpikir bahwa saya memiliki sifat-sifat kebaikan seperti yang anti sebutkan itu, kewajiban saya hanyalah bersyukur dan menganggapnya sebagai doa untuk saya yang senantiasa saya aminkan dengan sepenuh hati.

Kata pamungkas saya dalam kasus ini adalah bahwa saya sepenuhnya membenarkan dan mendukung keputusan anti untuk memilih Allah, karena memang begitulah yang diperintahkan. Harapan saya adalah bahwa saya bisa secepatnya menebus dan memperbaiki kesalahan yang telah saya lakukan kepada anti. :)

Ohya, jazakillah atas niat anti untuk tetap membantu saya dalam mencari pekerjaan. Dalam hal ini anti bisa menganggap saya sebagai seorang client yang membutuhkan pertolongan, barangkali.




Allah menyayangi Ukhti.

Best Regards
D'ikhwan
"BERSAMA SENYUM PURNAMA,KUTITIPKAN RINDU PADA ILLAHI,"


nb:
repost from http://anysenja.multiply.com/

Tidak ada komentar: